Tuhan
Tak Akan Pernah Tidur
Sinar
mentari pagi mulai memasuki celah-celah di gubukku yang kecil yang berada di
desa terpencil., cindy meutia putri nama indah yang diberikan oleh ayah
kepadaku. Aku seorang gadis kecil yang suka berkhayal, memang semua khayalanku
sangat mustahil untuk kucapai, tapi aku percaya bahwa aku bisa untuk mencapai
semua khayalan-khayalan itu. Ku lewati terjangan arus sungai, semak semak
belukar, dan jalanan kota yang ramai demi mencapai satu tujuan “ilmu”. Sebelum
ayah pergi, ayah pernah berpesan kepadaku “kamu harus lebih baik ! meskipun kamu tak sempurna seperti anak anak
lain. setiap manusia di beri kelebihan dan kekurangan” pesan itu yang membuatku
semangat untuk menggapai cita-citaku, seakan-akan ayah berada di sampingku.
Baru
saja aku menginjakkan kakiku di dalam sekolah, semua murid mulai bergerombol
dan mengejekku lagi, tapi aku sudah
terbiasa dengan itu semua, menurutku itu semua sudah menjadi sarapan pagiku
setiap hari, tetapi ledekan dari teman teman berhenti seketika, ketika Iqbaal datang
“sudah
jangan meledek cindy lagi” bentak pria kece berbehel yang selalu ada untukku,
seketika gerombolan murid pun bubar. Aku dan Iqbaal memasuki kelas dan duduk di
tempat masing- masing, memang tempat dudukku berbeda dari tempat duduk murid
lainnya, yang hanya terdapat meja tanpa bangku. Aku langsung mengeluarkan buku
dan membaca pelajaran sambil mengisi waktu kosong. “gunakan waktu
sebaik-baiknya” ucapan ayah yang masih melekat dalam fikiran ku.
“dor…”
kaget seseorang yang membuyarkan fokus ku membaca.
“Iqbaal..
apaan sih..”gerutuku sambil rasa jengkal
“kamu
bisa bantu aku buat kerjain ini gak?” Tanya nya sambil menunjuk soal yang
menurutnya susah
“
ya ampun.. Iqbaal ini kan gampang, kan kemarin udah di bahas” ucapku sambil
mengambil buku catatan biologi di tasku yang usang
“hehehe..
aku lupa” cengenges Iqbaal “yaudah sini aku bantu” aku menjelaskan cara
mengerjakan sedetail-detailnya dengan menggunakan kaki ku yang sudah terbiasa
untuk menulis.
“udah
faham?” tanyaku selayaknya guru bertanya kepada muridnya
“udah
dong.. makasih yaa cin”ucapnya dan kembali ke tempat duduknya.
Terik
matahari yang panas, ditambah dengan hembusan angin yang membawa debu,
membuatku ingin meneguk segelas air, minuman dingin yang tersedia di pinggiran
jalan kini mulai menggoda nafsuku untuk membelinya. Tapi, aku harus kuat, aku
tak boleh lengah, aku harus menyisihkan uang jajan untuk membeli butiran beras
untuk makan keluargaku, aku anak pertama, dan aku harus menafkahi keluargaku
setelah ayah pergi dan ibu yang umurnya terus berkurang tiap tahunnya. Aku tak
ingin mengecewakan ayah, aku tak ingin
melihat puluhan butiran air mata yang keluar dari mata ibu.” Aku harus bisa
membanggakan mereka dan aku pasti bisa !!” semangatku yang membara bagaikan
orang yang akan berperang untuk mencapai kemerdekaan.
Seperti
biasanya sore hari setelah aku belajar dan mengerjakan tugas dari sekolah, aku
membantu ibuku berjualan gorengan dengan mengenakan sepeda butut roda tigaku
yang sering aku pakai. Sepeda ini dibuat ayah untukku karna aku dilahirkan
dengan tangan yang tidak sempurna, tetapi aku tidak malu dengan keadaan fisikku
yang seperti ini, dengan keadaanku yang seperti ini, aku lebih mengerti arti
bersyukur dan rasa percaya diri serta aku harus bisa lebih baik daripada orang
yang beruntung dariku. Aku akan buktikan ke seluruh dunia, bahwa orang yang
mempunyai fisik yang tidak normal, dia akan bisa mencapai impiannya.
Hari
mulai senja, Alhamdulillah.. gorengan buatan ibu laku terjual, mungkin hanya
tersisa 3. Aku langsung pergi ke warung kecil untuk membeli secaruk butiran
beras untuk sarapan besok, dan kembali pulang. Ku taruh sepedaku di depan
rumah, dan kini aku mencium harum masakan ibu, cacing yang berada di dalam
perutku kini sudah menyanyi, tanpa pikir panjang lagi, kuhampiri ibu yang
berada di dapur sambil ku berikan hasil penjualan gorengan dan sekantong beras
yang ku beli tadi. Aku langsung membantu ibu memotong tahu dengan menggunakan
kakiku.
“cin.,
kamu istirahat saja.. pasti kamu capek” ucap ibu yang tahu bahwa aku kelelahan
“endak
bu.., aku gak capek kok” alibi ku kepada ibu, sebenarnya tubuhku sangat lelah,
tetapi aku harus terlihat semangat, senyum dan ceria di depan semua orang.
“ibu..
aku lapar..” rengek cantika adikku yang berlari ke dapur sambil memegangi
perutnya
“sebentar
yaa ibu lagi masak daun singkong untuk makan malam” ucap ibu sambil tersenyum
“daun
singkong lagi daun singkong lagi” gerutu cantika
“cantika..
daun singkong kan sehat.. besok pagi kita sarapan pakai nasi kok” ucap ku
“beneran yaa??!!” tanya cantika yang sepertinya sudah bosan dengan daun
singkong, aku hanya mengangguk.
Lampu
oblik yang selalu menerangi malamku kini mulai meredup, mungkin gas nya habis,
lama kelamaan cahaya lampu menghilang, aku langsung merapikan buku pelajaran
dan bergegas tidur, ku tutupi tubuhku yang mungil dengan sarung peninggalan
almarhum ayahku yang penuh dengan tambalan kain untuk berlindung dari dinginnya
angin malam, tak ku pedulikan gigitan nyamuk yang mencoba megganggu tidurku,
hingga aku terlelap dalam mimpi tidurku.
Kicau
kicauan burung mulai berlomba memamerkan suaranya yang merdu, begitu pula
kokokkan ayam yang berlomba membangunkan penghuni bumi. Aku akan berangkat
lebih pagi, karena pagi ini tujuanku tidak ke sekolah, melainkan pergi ke
Kantor Bupati untuk mengikuti lomba melukis, aku mengikuti lomba ini atas
dukungan sahabatku yapss.. Iqbaal, dia adalah orang yang selalu mendukungku,
dan memberi semangat kepadaku semenjak ayah pergi. Dia berjanji akan menemuiku,
tetapi sampai lomba dimulai aku belum melihat kedatangan Iqbaal. Aku sempat
berfikir “apa Iqbaal malu menemuiku di tempat keramaian seperti ini?” tapi aku
tak boleh negative thinking kepada Iqbaal, aku yakin Iqbaal tidak datang karena
ada urusan mendadak mungkin.
Aku
pun langsung mencari tempat duduk yang kosong, semua orang menatapku aneh dan
membicarakanku, tapi semua omongan itu aku jadikan motivasi untuk menuju
kesuksesan. Lomba pun dimulai, aku mulai mencoretkan warna di kanvas yang putih
ini dengan kakiku , ku goreskan sebuah garis yang membentuk wajah seorang
wanita, ku mencoba melukiskan wajah ibuku yang sedetail-detailnya. Meskipun
lukisan yang ku buat tidak sepersis wajah ibu, banyak para peserta yang memuji
lukisanku bahwa ini seperti wajah ibu yang berada di kertas foto. Semua peserta
mulai mengumpulkan hasil karyanya ke depan panggung, dan kini tinggal menunggu
hasil pengumuman juara
“juara ketiga di raih oleh Hanggini Purinda
Retto, juara kedua adalah Prilli Latuconsina, dan juara pertama….” Ucap dewan
juri menggantungkan pembicaraanya, dan membuat perasaanku penasaran dan
deg-degan tak karuan
“dan
juara pertama di menangkan oleh cindy meutia putri” ucap dewan juri, aku tak
percaya dengan semua ini,
“Tuhan..
apakah aku bermimpi.. apakah aku benar benar menang dalam lomba ini..” batin
ku, pikiranku melayang ketika mendengarkan juara pertama yaitu aku cindy meutia
putri. Semua peserta dan para undangan
menyorakiku untuk maju ke atas
panggung, aku pun berdiri dan maju ke atas panggung, suara sorakan yang riuh
berhenti seketika
”hah??”
ucap semua pesertadan melongo ketika melihat fisikku seperti ini.
“kamu
cindy meutia putri?” tanya dewan juri
tak percaya melihatku
“iya
saya cindy meutia putri” jawabku mantap
“selamat
yaa adek menang dan akan mengikuti lomba di tingkat provinsi” ucap dewan juri
sambil memberikan sebuah piala yang ditaruh di samping tubuhku
Lomba
pun telah usai, aku langsung pergi ke rumah Iqbaal untuk menanyakan mengapa Iqbaal
tak datang di Kabupaten tadi, tetapi di rumahnya aku hanya menemui bibi yang
menjaga rumah Iqbaal.
“bi,
Iqbaal nya ada?” tanyaku sambil bersandar di tembok
“
itu non, den Iqbaalnya sekarang di rumah sakit, tadi malam penyakit den Iqbaal
kambuh” jawab bibi dengan perasaan gelisah
“memangnya
Iqbaal sakit apa bi?” tanyaku khawatir
“den
Iqbaal sakit kanker stadium 4 non” jawab bibi sambil menundukkan kepalanya.
Deg!
Seketika perasaan ku hancur, pikiranku tak karuan, aku tak dapat menahan luapan
air mataku dan kini mengalir sangat deras. Aku langsung meminta alamat rumah
sakit Iqbaal dan langsung berangkat.
Ketika
aku membuka ruangan Iqbaal yang terdengar hanya tangisan yang pecah dan
seseorang di balik kain putih yang menutupi seluruh badannya, bunda Rike (bunda
Iqbaal) langsung memelukku dan tangisannya kini semakin pecah. Kaki ku tak dapat
menopang berat tubuhku, aku berjalan dengan gontai menuju jenazah Iqbaal yang
kini sudah tidak bernafas lagi, tangisanku seketika pecah, aku tidak percaya
dengan semua ini, teh Ody(kaka Iqbaal)
langsung memberikan secarik kertas yang bertuliskan “cin maaf, aku tak
dapat menepati janjiku, makasih udah hadir dalam kehidupanku, wujudkan impianmu
sebagai pelukis yang terkenal, Buktikan ke seluruh dunia bahwa orang yang tidak
sempurna, pasti bisa sukses, seperti kamu sekarang, jangan sedih yaa, aku pasti
selalu ada di sampingmu. Tetap tunjukkan wajah ceriamu ya :) –Iqbaal Dhiafakhri
Ramadhan-“
Kini
aku sudah berhasil meluluskan kuliahku dijurusan di S1 sebagai seniman, aku sudah bisa
menafkahi keluarga ku, dan keluargaku sudah bisa hidup yang lebih layak dari
sebelumnya, kini profesiku sebagai pelukis, dan lukisanku sudah terkenal di
berbagai mancanegara.
amanat : "jangan mudah menyerah, terus berjuang dan tetap berusaha. jangan pernah menyia nyiakan waktu. jangan malu untuk tampil di depan banyak orang, WE CAN DO IT guys. jangan malu terhadap kekurangan fisik pada tubuh kita, Tuhan itu Adil. Setiap orang pasti mempunyai kelebihan dan kekuragan :)
ambil sisi positifnya yaa readers
Tidak ada komentar:
Posting Komentar