Sabtu, 18 Januari 2014

ambil hikmah positifnya ;)


Tuhan Tak Akan Pernah Tidur
Sinar mentari pagi mulai memasuki celah-celah di gubukku yang kecil yang berada di desa terpencil., cindy meutia putri nama indah yang diberikan oleh ayah kepadaku. Aku seorang gadis kecil yang suka berkhayal, memang semua khayalanku sangat mustahil untuk kucapai, tapi aku percaya bahwa aku bisa untuk mencapai semua khayalan-khayalan itu. Ku lewati terjangan arus sungai, semak semak belukar, dan jalanan kota yang ramai demi mencapai satu tujuan “ilmu”. Sebelum ayah pergi, ayah pernah berpesan kepadaku “kamu harus lebih baik !  meskipun kamu tak sempurna seperti anak anak lain. setiap manusia di beri kelebihan dan kekurangan” pesan itu yang membuatku semangat untuk menggapai cita-citaku, seakan-akan ayah berada di sampingku.
Baru saja aku menginjakkan kakiku di dalam sekolah, semua murid mulai bergerombol dan  mengejekku lagi, tapi aku sudah terbiasa dengan itu semua, menurutku itu semua sudah menjadi sarapan pagiku setiap hari, tetapi ledekan dari teman teman berhenti seketika,  ketika Iqbaal datang
“sudah jangan meledek cindy lagi” bentak pria kece berbehel yang selalu ada untukku, seketika gerombolan murid pun bubar. Aku dan Iqbaal memasuki kelas dan duduk di tempat masing- masing, memang tempat dudukku berbeda dari tempat duduk murid lainnya, yang hanya terdapat meja tanpa bangku. Aku langsung mengeluarkan buku dan membaca pelajaran sambil mengisi waktu kosong. “gunakan waktu sebaik-baiknya” ucapan ayah yang masih melekat dalam fikiran ku.
“dor…” kaget seseorang yang membuyarkan fokus ku membaca.
“Iqbaal.. apaan sih..”gerutuku sambil rasa jengkal
“kamu bisa bantu aku buat kerjain ini gak?” Tanya nya sambil menunjuk soal yang menurutnya susah
“ ya ampun.. Iqbaal ini kan gampang, kan kemarin udah di bahas” ucapku sambil mengambil buku catatan biologi di tasku yang usang
“hehehe.. aku lupa” cengenges Iqbaal “yaudah sini aku bantu” aku menjelaskan cara mengerjakan sedetail-detailnya dengan menggunakan kaki ku yang sudah terbiasa untuk menulis.
“udah faham?” tanyaku selayaknya guru bertanya kepada muridnya
“udah dong.. makasih yaa cin”ucapnya dan kembali ke tempat duduknya.
Terik matahari yang panas, ditambah dengan hembusan angin yang membawa debu, membuatku ingin meneguk segelas air, minuman dingin yang tersedia di pinggiran jalan kini mulai menggoda nafsuku untuk membelinya. Tapi, aku harus kuat, aku tak boleh lengah, aku harus menyisihkan uang jajan untuk membeli butiran beras untuk makan keluargaku, aku anak pertama, dan aku harus menafkahi keluargaku setelah ayah pergi dan ibu yang umurnya terus berkurang tiap tahunnya. Aku tak ingin mengecewakan ayah, aku  tak ingin melihat puluhan butiran air mata yang keluar dari mata ibu.” Aku harus bisa membanggakan mereka dan aku pasti bisa !!” semangatku yang membara bagaikan orang yang akan berperang untuk mencapai kemerdekaan.
Seperti biasanya sore hari setelah aku belajar dan mengerjakan tugas dari sekolah, aku membantu ibuku berjualan gorengan dengan mengenakan sepeda butut roda tigaku yang sering aku pakai. Sepeda ini dibuat ayah untukku karna aku dilahirkan dengan tangan yang tidak sempurna, tetapi aku tidak malu dengan keadaan fisikku yang seperti ini, dengan keadaanku yang seperti ini, aku lebih mengerti arti bersyukur dan rasa percaya diri serta aku harus bisa lebih baik daripada orang yang beruntung dariku. Aku akan buktikan ke seluruh dunia, bahwa orang yang mempunyai fisik yang tidak normal, dia akan bisa mencapai impiannya.
Hari mulai senja, Alhamdulillah.. gorengan buatan ibu laku terjual, mungkin hanya tersisa 3. Aku langsung pergi ke warung kecil untuk membeli secaruk butiran beras untuk sarapan besok, dan kembali pulang. Ku taruh sepedaku di depan rumah, dan kini aku mencium harum masakan ibu, cacing yang berada di dalam perutku kini sudah menyanyi, tanpa pikir panjang lagi, kuhampiri ibu yang berada di dapur sambil ku berikan hasil penjualan gorengan dan sekantong beras yang ku beli tadi. Aku langsung membantu ibu memotong tahu dengan menggunakan kakiku.
“cin., kamu istirahat saja.. pasti kamu capek” ucap ibu yang tahu bahwa aku kelelahan
“endak bu.., aku gak capek kok” alibi ku kepada ibu, sebenarnya tubuhku sangat lelah, tetapi aku harus terlihat semangat, senyum dan ceria di depan semua orang.
“ibu.. aku lapar..” rengek cantika adikku yang berlari ke dapur sambil memegangi perutnya
“sebentar yaa ibu lagi masak daun singkong untuk makan malam” ucap ibu sambil tersenyum
“daun singkong lagi daun singkong lagi” gerutu cantika
“cantika.. daun singkong kan sehat.. besok pagi kita sarapan pakai nasi kok” ucap ku “beneran yaa??!!” tanya cantika yang sepertinya sudah bosan dengan daun singkong, aku hanya mengangguk.
Lampu oblik yang selalu menerangi malamku kini mulai meredup, mungkin gas nya habis, lama kelamaan cahaya lampu menghilang, aku langsung merapikan buku pelajaran dan bergegas tidur, ku tutupi tubuhku yang mungil dengan sarung peninggalan almarhum ayahku yang penuh dengan tambalan kain untuk berlindung dari dinginnya angin malam, tak ku pedulikan gigitan nyamuk yang mencoba megganggu tidurku, hingga aku terlelap dalam mimpi tidurku.
Kicau kicauan burung mulai berlomba memamerkan suaranya yang merdu, begitu pula kokokkan ayam yang berlomba membangunkan penghuni bumi. Aku akan berangkat lebih pagi, karena pagi ini tujuanku tidak ke sekolah, melainkan pergi ke Kantor Bupati untuk mengikuti lomba melukis, aku mengikuti lomba ini atas dukungan sahabatku yapss.. Iqbaal, dia adalah orang yang selalu mendukungku, dan memberi semangat kepadaku semenjak ayah pergi. Dia berjanji akan menemuiku, tetapi sampai lomba dimulai aku belum melihat kedatangan Iqbaal. Aku sempat berfikir “apa Iqbaal malu menemuiku di tempat keramaian seperti ini?” tapi aku tak boleh negative thinking kepada Iqbaal, aku yakin Iqbaal tidak datang karena ada urusan mendadak mungkin.
Aku pun langsung mencari tempat duduk yang kosong, semua orang menatapku aneh dan membicarakanku, tapi semua omongan itu aku jadikan motivasi untuk menuju kesuksesan. Lomba pun dimulai, aku mulai mencoretkan warna di kanvas yang putih ini dengan kakiku , ku goreskan sebuah garis yang membentuk wajah seorang wanita, ku mencoba melukiskan wajah ibuku yang sedetail-detailnya. Meskipun lukisan yang ku buat tidak sepersis wajah ibu, banyak para peserta yang memuji lukisanku bahwa ini seperti wajah ibu yang berada di kertas foto. Semua peserta mulai mengumpulkan hasil karyanya ke depan panggung, dan kini tinggal menunggu hasil pengumuman juara
 “juara ketiga di raih oleh Hanggini Purinda Retto, juara kedua adalah Prilli Latuconsina, dan juara pertama….” Ucap dewan juri menggantungkan pembicaraanya, dan membuat perasaanku penasaran dan deg-degan tak karuan
“dan juara pertama di menangkan oleh cindy meutia putri” ucap dewan juri, aku tak percaya dengan semua ini,
“Tuhan.. apakah aku bermimpi.. apakah aku benar benar menang dalam lomba ini..” batin ku, pikiranku melayang ketika mendengarkan juara pertama yaitu aku cindy meutia putri. Semua peserta dan para undangan  menyorakiku untuk maju  ke atas panggung, aku pun berdiri dan maju ke atas panggung, suara sorakan yang riuh berhenti seketika
”hah??” ucap semua pesertadan melongo ketika melihat fisikku seperti ini.
“kamu cindy meutia putri?” tanya dewan  juri tak percaya melihatku
“iya saya cindy meutia putri” jawabku mantap
“selamat yaa adek menang dan akan mengikuti lomba di tingkat provinsi” ucap dewan juri sambil memberikan sebuah piala yang ditaruh di samping tubuhku
Lomba pun telah usai, aku langsung pergi ke rumah Iqbaal untuk menanyakan mengapa Iqbaal tak datang di Kabupaten tadi, tetapi di rumahnya aku hanya menemui bibi yang menjaga rumah Iqbaal.
“bi, Iqbaal nya ada?” tanyaku sambil bersandar di tembok
“ itu non, den Iqbaalnya sekarang di rumah sakit, tadi malam penyakit den Iqbaal kambuh” jawab bibi dengan perasaan gelisah
“memangnya Iqbaal sakit apa bi?” tanyaku khawatir
“den Iqbaal sakit kanker stadium 4 non” jawab bibi sambil menundukkan kepalanya.
Deg! Seketika perasaan ku hancur, pikiranku tak karuan, aku tak dapat menahan luapan air mataku dan kini mengalir sangat deras. Aku langsung meminta alamat rumah sakit Iqbaal dan langsung berangkat.
Ketika aku membuka ruangan Iqbaal yang terdengar hanya tangisan yang pecah dan seseorang di balik kain putih yang menutupi seluruh badannya, bunda Rike (bunda Iqbaal) langsung memelukku dan tangisannya kini semakin pecah. Kaki ku tak dapat menopang berat tubuhku, aku berjalan dengan gontai menuju jenazah Iqbaal yang kini sudah tidak bernafas lagi, tangisanku seketika pecah, aku tidak percaya dengan semua ini, teh Ody(kaka Iqbaal)  langsung memberikan secarik kertas yang bertuliskan “cin maaf, aku tak dapat menepati janjiku, makasih udah hadir dalam kehidupanku, wujudkan impianmu sebagai pelukis yang terkenal, Buktikan ke seluruh dunia bahwa orang yang tidak sempurna, pasti bisa sukses, seperti kamu sekarang, jangan sedih yaa, aku pasti selalu ada di sampingmu. Tetap tunjukkan wajah ceriamu ya :) –Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan-“
Kini aku sudah berhasil meluluskan kuliahku dijurusan  di S1 sebagai seniman, aku sudah bisa menafkahi keluarga ku, dan keluargaku sudah bisa hidup yang lebih layak dari sebelumnya, kini profesiku sebagai pelukis, dan lukisanku sudah terkenal di berbagai mancanegara.

amanat : "jangan mudah menyerah, terus berjuang dan tetap berusaha. jangan pernah menyia nyiakan waktu. jangan malu untuk tampil di depan banyak orang, WE CAN DO IT guys. jangan malu terhadap kekurangan fisik pada tubuh kita, Tuhan itu Adil. Setiap orang pasti mempunyai kelebihan dan kekuragan :)

ambil sisi positifnya yaa readers

Tidak ada komentar:

Posting Komentar